A. Pendahuluan

Dalam dekade terakhir ini umat Islam terlihat nyaring perdebatan di media sosial maupun di majlis-majlis ta’lim/liqo/pengajian tentang perdebatan dunia atau akherat. Perdebatan tidak selesai pada wilayah itu saja akan tetapi sampai pada perdebatan siapa siapa yang berhak menerima imbalan pahala dan dosa serta siapa yang berhak menempati surga dan siapa yang bisa menempati neraka. Nampak jelas umat muslim menempati tangga terbawah dalam peradaban dan pergaulan dunia, karena dalam internal umat Islam sendiri, saling melecehkan, saling menghakimi, saling mencaci, saling memaki. Padahal wilayah perdebatan ada di wilayah fiqih yang aspek kebenaranya masih bersifat nisbi.

Umat Islam tidak bisa lepas dari ajaran syariatnya, salah satunya adalah hukum fiqih. Fiqih menjadi urgen karena berkaitan dengan metode beribadah, cara, interaksi sosial, dan masih banyak lainya. Seringkali terjadi perseteruan antara pemeluk agama dan internal agama diawali dari adanya perbedaan penafisiran atas dalil yang mereka fahami.

Umat Islam sudah saatnya untuk melirik pesan Allah SWT yang menghadirkan Islam sebagai rohmatan lil’alamin, yang bukan hanya memberikan kesejahteraan dan kenyamanan hidup pribadi, akan tetapi mampu menyejukan seluruh umat. Umat Islam harus memiliki agenda untuk menjadikan logika berfikir awal yang mampu mempersatukan umat tanpa lelah mencari lemahnya yang lain akan tetapi bagaimana membangun persatuan untuk kita saling mencintai antar umat Islam, ditengah perbedaan.

B. Fiqih Ibadah

Fiqih secara bahasa al Fahm (pemahaman),[1] atau pengetahuan tentang sesuatu[2]. firman Allah ta’ala :

قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ

“Mereka berkata: “Hai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu.” (QS. Huud :91)

Adapun beberapa ulama memiliki ta`rif berbeda mengenai fiqih. Secara syara` diantaranya; Abu Hanifah mendefinisikan fiqih sebagai pengetahuan manusia akan dirinya dan segala yang terkait dengan kemanusiaan. Abu Abdilah as-Syafii menyatakan pendapatnya mengenai fiqih yaitu sebagai ilmu pengetahuan, ketentuan Tuhan yang berkaitan dengan segala tindakan manusia yang memiliki dampak hukum berdasarkan perintah Tuhan. Imam Showi menjelaskan bahwa fiqih adalah mengambil agama Allah dan teguh menjalankan seluruh perintah dan menghindari apa yang menjadi larangan-Nya.[3]

Dapatkan Unlimited web hosing terbaik Indonesia, PROMO TERBATAS -diskon 75% + 5%, GRATIS domain dan SSL. Gunakan kode kupon : DISKONLIMAPROSEN

KEUTAMAAN ILMU FIQIH

1. Tafaquh fid-dien (memperdalam pemahaman agama) Adalah Perintah Dan Hukumnya Wajib

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi : “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.” (QS. Ali Imran : 79)

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya bagi mu’minin itu pergi semuanya . Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah : 122)

طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضَةً عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

 “Menuntut ilmu itu wajib bagi tiap muslim.” (HR.Ibnu Majah)

2. Paham terhadapat ilmu fiqih adalah nikmat yang agung dan tanda bertambahnya kebaikan

وَأَنْزَلَ اللهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

“… Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur-an) dan hikmah (As-Sunnah) kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu sangat besar.” (QS. An-Nisaa’: 113)

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

 “Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” (Mutafaqqun ‘Alaih)

3. Fiqih bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah adalah penjaga dari penyimpangan/kesesatan

تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما : كتاب الله وسنة نبيه

“Telah aku tinggalkan pada kalian dua perkara yang jika kalian berpegang dengan keduanya, tidak akan tersesat : Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya”. (HR.Muslim)

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang beramal dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak.” (Mutafaqqun ‘Alaih)

4. Ahlu  fiqih dan orang yang mempelajarinya adalah orang yang memiliki derajat yang tinggi

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah : 11)

5. Orang yang paham ilmu syari’at adalah orang yang dekat kepada taufiq dan hidayah Allah

وَيَرَى الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ الَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ

“Dan orang-orang yang diberikan ilmu memandang bahwa apa yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabbmu adalah kebenaran dan akan membimbing kepada jalan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Terpuji.” (QS. Saba: 6)

وَتِلْكَ اْلأَمْثاَلُ نَضْرِبُهاَ لِلنَّاسِ وَماَ يَعْقِلُهاَ إِلاَّ الْعاَلِمُوْنَ

“Demikianlah permisalan-permisalan yang dibuat oleh Allah bagi manusia dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS. Al-’Ankabut: 43)

6. Tidak Paham Syariah dan khsususnya fiqih  akan menimbulkan Perpecahan dan menghilangkan kekuatan umat

Para ulama terbiasa berbeda pendapat, karena berbeda hasil ijtihad sudah menjadi keniscayaan. Namun karena ilmu yang mereka miliki membuat mereka  tidak saling mencaci, menjelekkan atau menafikan.

Sebaliknya, semakin awam seseorang terhadap ilmu syariah, biasanya akan semakin tidak punya mental untuk berbeda pendapat. Sedikit perbedaan di kalangan mereka sudah memungkinkan untuk terjadinya perpecahan, pertikaian, bahkan saling menjelekkan satu sama lain.

وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

 “Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfaal :46)

7. Kehancuran umat dan datangnya kiamat Ditandai Dari Hilangnya Ilmu Syariah

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا

“Diantara tanda-tanda terjadinya hari kiamat yaitu: diangkatnya ilmu, kebodohan merajalela, banyaknya orang yang meminum minuman keras, dan zina dilakukan dengan terang-terangan.” (HR. Muslim)

ﺿﻴﻌﺖ ﻓﺈذا الساﻋﺔ ﻓﺎﻧﺘﻈﺮ اﻷﻣﺎﻧﺔ . ﻓﻘﺎل : إﺿﺎﻋﺘﻬﺎ ﻛﻴﻒ ؟ ﻗﺎل : ﻏﻴﺮ إﻟﻰاﻷﻣﺮ وﺳﺪ إذا ﻓﺎﻧﺘﻈﺮ الساﻋﺔ أهله

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR. Bukhari)

8. Tipu Daya Orientalis dan Sekuleris Sangat Efektif Bila Lemah di Bidang Syariah

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 73)

Para ulama syariah terbiasa berbeda pendapat, karena berbeda hasil ijtihad sudah menjadi keniscayaan. Namun mereka sangat menghormati perbedaan diantara mereka. Sehingga tidak saling mencaci, menjelekkan atau menafikan.

Sebaliknya, semakin awam seseorang terhadap ilmu syariah, biasanya akan semakin tidak punya mental untuk berbeda pendapat. Sedikit perbedaan di kalangan mereka sudah memungkinkan untuk terjadinya perpecahan, pertikaian, bahkan saling menjelekkan satu sama lain.

Dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Saw bersabda :

أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ

 “Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, orang berilmu, dan orang yang mempelajari ilmu.”[4]

Rasulullah Saw bersabda :

سيأتي على الناس سنوات خداعات يصدق فيها الكاذب ويكذب فيها الصادق ويؤتمن فيها الخائن ويخون فيها الأمين وينطق فيها الرويبضة . قيل وما الرويبضة ؟ قال : الرجل التافه ؛ يتكلم في أمر العامة

“Akan datang tahun-tahun yang dipenuhi penipuan. Pada saat itu, seorang pendusta justru dibenarkan dan seorang yang jujur malah didustakan. Seorang pengkhianat malah dipercaya dan seorang yang amanah malah dikhianati. Pada saat itu, ar-ruwaibidhah akan angkat bicara. Para sahabat bertanya, “Apa ruwaibidhah itu?” Nabi menjawab, “Ar-ruwaibidhah adalah seorang yang (pada hakekatnya) dungu, namun berani bicara mengenai urusan umat.” (HR. Bukhari).

Ali ra. berwasiat kepada muridnya, Kumail bin Ziyad,

يا كميل بن زياد القلوب أوعية فخيرها أوعاها للعلم احفظ ما أقول لك الناس ثلاثة فعالم رباني ومتعلم على سبيل نجاة وهمج رعاع اتباع كل ناعق يميلون مع كل ريح لم يستضيئوا بنور العلم ولم يلجئوا إلى ركن وثيق

“Wahai Kumail bin Ziyad. Hati manusia itu bagaikan bejana (wadah). Oleh karena itu, hati yang terbaik adalah hati yang paling banyak memuat ilmu. Camkanlah baik-baik apa yang akan kusampaikan kepadamu. Manusia itu terdiri dari 3 kategori, seorang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya. Seorang yang terus mau belajar, dan orang inilah yang berada di atas jalan keselamatan. Orang yang tidak berguna dan gembel, dialah seorang yang mengikuti setiap orang yang bersuara. Oleh karenanya, dia adalah seorang yang tidak punya pendirian karena senantiasa mengikuti kemana arah angin bertiup. Kehidupannya tidak dinaungi oleh cahaya ilmu dan tidak berada pada posisi yang kuat.” (Hilyah al-Auliya, 1/70-80).

Al Imam Ahmad mengatakan :

الناس محتاجون إلى العلم قبل الخيز و الماء لأن العلم محتاجون إليه الإنسان في كل ساعة و الخبز و الماء في اليوم مرة أو مرتين

“Manusia sangat membutuhkan ilmu melebihi kebutuhan terhadap roti dan air, karena ilmu dibutuhkan manusia di setiap saat. Sedangkan roti dan air hanya dibutuhkan manusia sekali atau dua kali” (Al Adab asy Syar’iyyah 2/44-45).

Imam Asy Syafi’i berkata :

كُلُّ الْعُلُوْمِ سِوَى الْقُرْآنِ مُشْغِلَةٌ      إِلاَّ الْحَدِيْثَ وَ عِلْمَ الْفِقْهِ قِي الدِّيْنِ

اَلْعِلْمُ مَا كَانَ فِيْهِ قَالَ حَدَّثَنَا           وَ مَا سِوَى ذَاكَ وَسْوَسُ الشَّيَاطِيْنَ

Setiap ilmu selain Al Qur-an akan menyibukkan, kecuali ilmu hadits dan fiqih. Ilmu adalah sesuatu yang di dalamnya terdapat ungkapan ‘Haddatsana’ (yaitu ilmu yang berdasar kepada wahyu). Adapun ilmu selainnya, hal itu hanyalah bisikan syaithan semata (Diwan al Imam asy Syafi’i, Dar al Kutub al ’Ilmiyah).

Beliau juga mengatakan,

مَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً           تَجَرَّعَ ذُلُّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتِهِ

وَ مَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ         فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ

“Barangsiapa yang tidak pernah mencicipi pahitnya belajar, Maka dia akan meneguk hinanya kebodohan di sepanjang hidupnya; Barangsiapa yang tidak menuntut ilmu di masa muda, Maka bertakbirlah empat kali, karena sungguh dirinya telah wafat”. (Diwan al Imam asy Syafi’i, Dar al Kutub al ’Ilmiyah).

Nabi SAW. bersabda  :

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة

“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim nomor 2699).

Fiqih Ibadah diklasifikasikan terhadap semua perbuatan yang berkaitan dengan Thaharoh, Shalat, Puasa, Zakat, Haji, Qurban, Nadzar, Sumpah dan semuaperbuatan manusia yang berhubungan dengan Tuhannya.[5]

Menjadi keniscayaan bahwa kita dalam beribadah harus menggunakan ilmu atau menjadi syarat sebelum kita beribadah mencari ilmu terlebih dahulu karena kedudukan ilmu itu laksana pohon, dan ibadah itu adalah buah dari berbagai jenis buah pepohonan (ilmu). Wajib bagi kita yang pertama untuk mengenal al-Ma`bud, karena bagaimana kita akan menjalankan pengabdian kalau kita tidak mengenal dari Asma, Sifat Dzat-Nya, apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin menyertai dzat-Nya agar kita terhindar dari penisbatan pensifatan yang keliru terhadap-Nya.

قال صلى الله عليه وسلّم: يقول الله تبارك وتعالى ماتقرّب اليّ المتقرِّبون بمثل أداء ما افترضتُ عليهمْ ولايزال العبد يتقرّب اليّ بالنوافلِ حتّى احبّه فاذا احببْتهُ كنتُ سمعه الّذى يسمع به وبصره الّذى يبصربه ولسانه الّذى ينطق به ويدّه الّتى يبطش بها ورجله الّتى يمشى بها

Hadits qudsi di atas mengisyaratkan bahwa perintah Allah SWT ada yang bersifat Fardlu dan Nawafil. Fardlu adalah perintah yang bersifat wajib dan menjadi dasar dari bentuk penghambaan dan pengabdian. Sedang Nawafil adalah keuntungan dan kemenangan yang memiliki derajat (Tingkatan).

Butuh hosting berkualitas dan murah? Tingkatkan kecepatan loadingkeamananhingga uptime website Anda dengan web hosting dari Niagahoster! Dapatkan hosting terbaik dengan harga termurah di kelasnyamulai dari 10 ribu rupiah!! Gunakan kode kupon : DISKONLIMAPROSEN

Beberapa contoh kajian fiqih ibadah dalam kitab-kitab ulama salaf adalah antara lain :

1. Thaharah

Dalam praktik peribadahan atau awal bagian yang harus diperhatikan adalah thaharah. Seperti penjelasan dalam hadits berikut; karena thaharah kunci shalat dan merupakan syarat sahnya shalat :

مفتاح الصلاة الطّهور، وتحريمها التكبير، وتحليلها التسليم[6]

Thaharah secara bahasa adalah bersih dari segala kotoran atau najasah. Adapun menurut syara` thaharah memiliki makna bersih darisegala macam najis baik yang bersifat hakikat, aib dan perbuatan maksiat atau yang bersifat hukmiyah; hadats besar, hadats kecil (kencing) dll. Imam Nawawi As-syafi`i mendefinisikan thaharah adalah menghilangkan atau mensucikan diri dari hadats besar dan hadats kecil maupun menghilangkan bentuk dari kedua hadats tersebut seperti dalam firman Allah dalam surat 2 ayat 125 dan surat 74 ayat 4.

Dalam masalah thaharah para ulama sepakat terkait alat, media yang dapat digunakan untuk bersuci adalah air dan debu/batu. Namun, dalam kehidupan sekarang alat untuk bersuci khususnya air telah mengalami perkembangan dan membutuhkan perhatian serius. Persoalan pengairan telah berkembang sangat pesat tehnologinya dan menjadi peluang bagi kehidupan manusia dari sisi manfaat (nilai ekonomi). Hal ini senada dengan pemahaman para ahli ushul bahwa Nash kebanyakan menggunakan shighot takhshis (khusus) yang di dalamnya mencakup penjelasan hukum umum.[7]

Sarana menuju kesempurnaan berwudlu menjadi sebuah perbuatan yang memiliki nilai pahala karena akan memudahkan dalam penyempurnaan thoharoh/wudlu.

2. Shalat

Do`a (mengharap kebaikan) merupakan makna dari shalat secara lughot (QS. 9 : 103), secara syar`i shalat merupakan gabungan dari perbuatan dan ucapan khusus yang diawali dengan pengucapan takbir dan diakhiri dengan salam. Adapun salah satu tujuan dari disyariatkannya shalat adalah untuk mewujudkan rasa sukur terhadap banyaknya kenikmatan yang Allah berikan, disamping itu shalat juga memiliki manfaat yang bersifat diniyah yang paling fundamental adalah keshalihan mental/ kejiwaan (QS. 70 : 19 – 21) dan juga memiliki manfaat secara ijtimaiyah (sosial).[8] Tidak seperti ibadah yang lain, shalat memiliki ketentuan waktu yang jelas (QS. 4 : 103). Pada penentuan waktu pelaksanaan shalat secara ekplisit menjelaskan mekanisme keilmuan yang bersifat dinamis seperti; penemuan alat penunjuk arah (kompas), penentuan waktu isyraq dan ghurubussyams[9] yang mengisyaratkan peluang kajian shalat secara lebih masif dari berbagai disiplin keilmuan tidak juga kajian ekonomi dan industry.[10] Istinbath hukum yang kita gunakan adalah pendekatan ushul fiqih yang menjadi rujukan dari permasalahan yang terjadi hari ini. Keterkaitan teknlologi bagi sempurnanya pelaksanaan peribadatan adalah sebuah keniscaayaan seperti pada kajian thaharah dalam pelaksaan shalat juga tidak mungkin lepas dengan dunia industri.

المشقة تجلب التيسير

Kaidah di atas (usul fiqih) menjelaskan bahwa persoalan kekeringan yang melanda dunia saat ini dan kebutuhan manusia akan teknologi pengairan dan industri tekstil adalah syarat yang tidak bisa kita nafikan bagi terwujudnya ibadah. Imam Izzudin bin Abdussalam memiliki penjelasan dalam teorinya bahwa kajian fiqih secara umum adalah bertujuan mencarikan ta`bir bagi terciptanya kemaslahatan dan bagaimana menolak keburukan.

عن عقبة بن عامر إنّ الله يدخل بالسهم الواحد الثلاثة الجنّة، وفيه: وصانعة يحتسب فى صنعته الاجرة

Hadits di atas mengisyaratkan bahwa memproduksi alat yang dibutuhkan bagi umat untuk melaksanakan ibadah adalah memiliki nilai ibadah (manfaat).[11] Absah-nya Shalat sebagai salah satu rukun Islam memiliki tata-cara (syuruthu as -shalat) yang tidak bisa ditinggalkan seperti sahnya bentuk ibadah yang lain. Menurut bahasa syarath adalah petunjuk, menurut syariat; petunjuk yang dengannyatercapai keabsahan shalat tetapi bukan merupakan bagian dari shalat. Adapun, rukun menurut bahasa adalah bagian yang harus ada, menurut istilah; bagian yang harus ada pada setiap pelaksanaan shalat karena merupakan bagian dari shalat.[12]

Syarat wajibnya shalat (Syuruthu Wujuba as-sholati)

  1. Islam. Shalat hanya diwajibkan bagi orang yang beragama Islam laki-laki dan perempuan. Menurut pendapat jumhur tidak diwajibkankan shalat bagi non-muslim terkait dengan keabsahan pelaksanaannya.
  2. Dewasa (Baligh). Shalat tidak diwajibkan bagi anak-anak berdasarkan salah satu hadits yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib dan Umar bin Khathab oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan Alhakim.
  3. Tidak kehilangan akal (gila).

Syarat sahnya shalat (Syuruthu Shihata as-sholati)

  1. Niat
  2. Mengetahui waktu shalat. Tidak sah pelaksanaan shalat di luar waktu yang telah ditentukan
  3. Suci dari hadats kitab al-libas
  4. Suci dari kotoran (najis) QS.74 : 4
  5. Menutup aurat.[13]
  6. Menghadap kiblat
  7. Menggunakan bahasa arab
  8. Tidak bergerak diluar gerakan shalat
  9. Tertib.

3. Haji

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

Artinya:
“Dan umumkanlah (wahai Ibrahim) kepada sekalian manusia tentang kewajiban haji atas mereka, niscaya mereka akan datang kepadamu dalam keadaan berbeda-beda; berjalan kaki dan menunggangi unta yang kurus (yaitu unta yang kurus karena perjalanan dan beban pekerjaan bukan karena berdaging sedikit) yang tiba dari segenap jalan yang jauh.” — Surat Al-Hajj Ayat 27.

Ayat diatas mengisyaratkan bahwa pelaksanaan Haji disamping karena kewajiban yang bersifat mahdloh juga adanya persiapan, sarana yang dibutuhkan untuk menunaikannya (Kitab al-Haj).[14] Supaya mereka menghadiri hal-hal yang bermanfaat bagi mereka, berupa: pengampunan bagi dosa-dosa mereka, pahala mengerjakan manasik haji dan ketaatan mereka, serta perolehan keuntungan dalam perniagaan mereka dan kepentingan-kepentingan lain, dan agar mereka menyebut nama Allah ketika menyembelih hewan (Nusuk), kurban yang mereka jadikan pendekatan diri kepada Allah, seperti unta, sapi dan kambing pada hari-hari tertentu, yaitu tanggal 10 Dzulhijjah dan tiga hari setelahnya, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya. sedang mereka diperintah sebagai anjuran saja untuk memakan dari sembelihan-sembelihan tersebut dan memberikan makan orang fakir yang amat sulit ekonominya dari sembelihan itu. Dengan adanya penjelasan tersebut diatas jelas bahwa ibadah mahdhah tidak dapat terlepas dari urusan “duniawi”.

Unlimied Web Hosting Terbaik Indonesia –Paket hosting diskon hingga 75% + 5%, Gratis DOMAIN dan SSL. Gunakan kode kupon : DISKONLIMAPROSEN

Daftar Pustaka

– A. Aziz, Fathul. 2019. Fiqih Ibadah Versus Fiqih Muamalah. Jurnal Ekonomi Islam, Vol. 7, No. 2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Purwokerto.
– Abdurrahman bin Nasir Al Barrak, Abu Qutaibah N. M. Al Faryabi. 2005.
– Abdurahman as-Suyuthi. 1983. Asybah wa Nadhair. Bairut: Darul Kitab Alamiyah.Fathul Barri bi Syarhil Bukhori. Riyadh: Darul Thaibah.
– Abi Yahya Zakaria al- Anshori. 2008. Fathul Wahab bi Syarhi Minhaju at-Thulab. Al Haramain.
– Adiwarman Karim,  2010. Bank Islam:  Analisis  Fiqh & keuangan, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, Edisi 4, cet 7.
– Ahmad bin Muhamad al- Zarqa. 1987. Syarah Qawa`idul Fiqhiyah. Damaskus: Darul Qalam.
– Ali Ahmad al- Salusi. 2004. Kitab “Fiqhul Ba`i wal istitsaq”. Mesir: Maktabah Darul Quran.
– Faris al Hurasan, Isham. 1994. Kitab “Tafsir Thabari; Jaami al-bayan an ta`wil aayil qur`an”. Bairut: Muasasah al-Risalah.
– Haroen, Nasrun. 2000. Fiqh Muamalah, Jakarta: Gaya Media Pratama. Izzudin Abdilaziz bin Abdissalam al-sulami. 1995. Kitab “Nubadzu min Maqasidi al-Kitab al- Aziz”. Cet-1. Damaskus: Maktabah al-Ghazali.
– Kasmir,  bank & Lembaga Keuangan Lainnya, Jakarta: PT.Raja Grafindo Tinggi, cet ke 6.
– Muhamad bin Ahmad bin Abu Bakar al-Qurtubi. 2006. Jami` al-Ahkam al-Quran wal mubayinu lima tadhamanahu min al-sunnah wa ayyi al-quran. Bairut: Muasasah al-Risalah.
– Nawawi, Muhammad. Syarhul Muraqil `Ubudiyah. Pekalongan: Maktabah Raja Murah.
– Rasyid, Muhamad. 1999. Kitab “Ashbabunnuzul wa atsariha fibayani nushus”. Darus Syihab.
– Sami bin Muhamad as-Salamah. 1999. Tafsir Alquran al-Adhim li Ismail bin Umar bin Katsir al-quroys. Cet-2. Kingdom of Saudi Arabiah: Darul Thoyibah.
– www.konsultasislam.com/2011/07/pentingnya-mempelajari-ilmu-fiqih
– Z,  Wahbah.  2005.  Kitab  “Fiqhul  islami  wa  adalatih”.  Damaskus: Maktabah Darul Fikr.
_____. 2004. Fiqhul Ba`i wal istitsaq. Mesir: Maktabah Darul Quran.
_____. 1994. Tafsir Thabari; Jaami al-bayan an ta`wil aayil qur`an. Bairut: Muasasah al-Risalah.
_____. Kitab “Majmu li Nawawi.
_____. 2005. Fiqhul islami wa adalatih. Damaskus: Maktabah Darul Fikr.


[1]Fiqh al Islami wa Adillatuhu,1/30 :
الفقه لغة: الفهم…وعرف الشافعي رحمه الله الفقه بالتعريف المشهور بعده عند العلماء بأنه: العلم بالأحكام الشرعية العملية المكتسب من أدلتها التفصيلية.

[2]Al Mausu’ah Fiqhiyah al Kuwaitiyah, 32/193 :
الْفِقْهُ فِي اللُّغَةِ: الْعِلْمُ بِالشَّيْءِ وَالْفَهْمُ لَهُ، وَالْفَطِنَةُ فِيهِ، وَغَلَبَ، عَلَى عِلْمِ الدِّينِ لِشَرَفِهِ،…وَفِي الاِصْطِلاَحِ هُوَ: الْعِلْمُ بِالأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْعَمَلِيَّةِ، الْمُكْتَسَبُ مِنْ أَدِلَّتِهَا التَّفْصِيلِيَّةِ
Lihat pula Al Fiqh asy Syari’ah,1/2 :
معناه علم القانون الإسلامي فهو علم الأحكام الشرعية العلمية التي تخص أفعال المكلفين، وبذلك تخرج أحكام العقائد والأخلاق من مدلول الفقه. لذا يعرف الفقه بأنه: (العلم بالأحكام الشرعية العملية المكتسب من أدلتها التفصيلية) وهذا التعريف للفقه في غاية الدقة إذ إنه يظهر وجهة نظر علماء المسلمين الخاصة لعلم الحقوق، وفيما يلي إيضاح عناصر هذا التعريف:
أولًا: الفقه علم: فهو ذو موضوع خاص وقواعد خاصة، وعلى هذا الأساس درسه الفقهاء في كتبهم وأبحاثهم وفتاويهم فهو ليس فنًّا يغلب فيه الذوق على العقل والمشاعر على الحقيقة.
ثانيًا: الفقه العلم بالأحكام الشرعية، والأحكام الشرعية هي المتلقاة بطرق السمع المأخوذة من الشرع دون المأخوذة من العقل كالعلم بأن العالم حادث، وأن الواحد نصف الاثنين، أو الأحكام المأخوذة من الوضع والاصطلاح اللغوي فالحكم الشرعي هو القاعدة التي نص عليها الشارع في مسألة من المسائل وهذه القاعدة إما أن يكون فيها تكليف معين كالواجبوالمحرم فتسمى الحكم الشرعي التكليفي، وإما أن لا يكون فيها أي تكليف كالحكم بالصحة أو البطلان على فعل معين، فيقال لها الحكم الشرعي الوضعي.
ثالثًا: الفقه العلم بالأحكام الشرعية العملية: وكلمة عملية تعني أن الأحكام الفقهية تتعلق بالمسائل العملية التي تتعلق بأفعال الناس البدنية في عباداتهم ومعاملاتهم اليومية ويقابل بالأحكام العملية الأحكام العقائدية وأحكام صلاح القلب وهو ما يسمي بعلم الأخلاق، فهذه تتعلق بأفعال القلوب لا بأعمال الأبدان، ولذلك لا تسمى فقها في هذا الاصلاح.
رابعًا: جاء في التعريف أن علم الفقه مكتسب من أدلة الأحكام التفصيلية ومعنى ذلك أن الأحكام تعد من علم الفقه إلا إذا كانت مستندة إلى مصادر الشرع المعلومة أي أدلة الشرع. والفقيه هو الذي يسند كل حكم من أحكام الشرع إلى دليله، فالقانون الإسلامي أو الفقه الإسلامي ليس وضعيًّا من صنع الدولة بل هو تشريع ديني يستند إلى مصادر دينية.

[3]Muhammad Nawawi, “Syarhul Muraqil `Ubudiyah” (Pekalongan: Maktabah Raja Murah) hlm. 4.

[4]Hadits hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2322), Ibnu Majah (no. 4112), dan Ibnu ‘Abdil Barr (I/135, no. 135), Lihat Shahiih at-Targhib wat Tarhiib (no. 74). Lafazh ini milik at-Tirmidzi.

[5]Wahbah. Z, Kitab “Fiqhul islami wa adalatih” (Damaskus: Maktabah Darul Fikr, 2005).

[6]“Fiqhul islami wa adalatih” (Damaskus: Maktabah Darul Fikr, 2005) juz 1, hlm. 237.

[7]Muhamad Rasyid kitab “Ashbabunnuzul wa atsariha fibayani nushus” (Darus Syihab, 1999) hlm. 370.

[8]“Fiqhul islami wa adalatih” (Damaskus: Maktabah Darul Fikr, 2005) juz 1, hlm. 657.

[9]“Fiqhul islami wa adalatih” (Damaskus: Maktabah Darul Fikr, 2005) juz 1, hlm. 663.

[10]“Fiqhul islami wa adalatih” (Damaskus: Maktabah Darul Fikr, 2005) juz 1, hlm. 692.

[11]Abdurahman as-Suyuthi “Asybah wa Nadhair” (Bairut: Darul Kitab Alamiyah, 1983) hlm. 8.

[12]“Fiqhul islami wa adalatih” (Damaskus: Maktabah Darul Fikr, 2005) juz 1, hlm. 722.

[13]Abdurrahman bin Nasir Al barrak, Abu Qutaibah N. M. Al faryabi “Fathul Barri bi Syarhil Bukhori” (Riyadh : Darul Thaibah, 2005) juz 13. hlm . 249.

[14]Abi yahya Zakaria al- Anshori “Fathul Wahab bi Syarhi Minhaju at-Thulab” (Al Haramain, 2008) Juz 1. hlm. 135.